Selama hidup di dunia ini sejak kurang lebih 36 tahun lalu, separuh umur
saya sudah dipakai untuk berlatih hidup mandiri, alias merantau. Gak
murni merantau sih, kesannya berat banget gitu, karena selama tinggal
jauh dari orang tua demi menuntut ilmu, saya dan teman2 akrab saya juga
hobby travelling (hmm aktivitas yg paling disukai selama merantau ^_^).
Tinggal jauh dari ortu ini ternyata tidak hanya bersusah2 tapi jg
bersenang2 hehe.. Susahnya klo duit kiriman menipis sebelum bulan
berakhir, hmm maklum anak kuliahan yg masih ngandalin support ortu..
Senangnya klo lg libur pendek, gak mudik, ada duit hehe.. Jalan2 deh..
Ehmm kok jd ngawur ceritanya yaaaa..
Pembelajaran dari hidup jauh dari tua itu tadi, antara lain adanya misi pendewasaan diri, mandiri, tangguh menghadapi kesulitan hidup, semakin teguh dalam iman, tekun dan sungguh2 dalam bekerja, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan pribadi2 yg amat variatif. Ini versi saya, melihat dari harapan ortu.
Berbicara tentang pribadi yg variatif menarik buat saya, karena sewaktu saya masih tinggal dengan ortu, saya menganggap semua orang itu sama. Lalu saya kuliah dan hijrah ke Jakarta, kuliah dan tinggal di kos. Mulailah saya melihat pribadi2 itu. Tidak hanya di lingkungan kampus dan kos2an, banyak pribadi yg kemudian muncul di penglihatan saya, waktu saya nunggu bis di halte, atau waktu saya ngobrol dengan bapak yg nganterin saya dengan taksinya, atau dengan ibu2 yg duduk disebelah saya di dalam bis PPD yg takut salah turun menuju rumah adiknya, abang penjual nasi goreng di kampus salemba, bapak penjual soto 3 juta, dan masih banyak lagi.
Dari banyak macamnya pribadi2 ini, sering saya berpikir, kenapa seseorang itu bisa jadi seperti dia yg sekarang?
Kenapa, hayooo??
Saya juga bingung..
Kadang saya berpikir lingkunganlah yang membentuk seseorang. Dari yg bandel jadi baik, dari yang bejat jadi alim, atau sebaliknya. Tapi kemudian saya berpikir lagi, saya teringat pernah membaca bahwa keluarga adalah awal pembentukan kepribadian seseorang. Saya setuju sekali. Tapi lagi2 saya berpikir, kalo awalnya dari keluarga kenapa kakak beradik berbeda pula kelakuannya.
Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa Tuhan menciptakan manusia secara unik. Tuhan sudah menentukan jalan hidup manusia. Sekarang bagaimana manusia ini tadi bereaksi menerima lingkungan pembentuknya. Bagaimana manusia ini mampu menyortir, dan melihat kembali apa yang Tuhan inginkan dari hidup manusia2 ini. Dan kalau semua manusia memahaminya, mungkin tidak ada macam-macam manusia..
Tanjungpinang, 25 Mei 2011, jam 2.25 uhuhu..
Karena gak bisa tidur dan rindu menulis malem2 hehe..
Ehmm kok jd ngawur ceritanya yaaaa..
Pembelajaran dari hidup jauh dari tua itu tadi, antara lain adanya misi pendewasaan diri, mandiri, tangguh menghadapi kesulitan hidup, semakin teguh dalam iman, tekun dan sungguh2 dalam bekerja, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan pribadi2 yg amat variatif. Ini versi saya, melihat dari harapan ortu.
Berbicara tentang pribadi yg variatif menarik buat saya, karena sewaktu saya masih tinggal dengan ortu, saya menganggap semua orang itu sama. Lalu saya kuliah dan hijrah ke Jakarta, kuliah dan tinggal di kos. Mulailah saya melihat pribadi2 itu. Tidak hanya di lingkungan kampus dan kos2an, banyak pribadi yg kemudian muncul di penglihatan saya, waktu saya nunggu bis di halte, atau waktu saya ngobrol dengan bapak yg nganterin saya dengan taksinya, atau dengan ibu2 yg duduk disebelah saya di dalam bis PPD yg takut salah turun menuju rumah adiknya, abang penjual nasi goreng di kampus salemba, bapak penjual soto 3 juta, dan masih banyak lagi.
Dari banyak macamnya pribadi2 ini, sering saya berpikir, kenapa seseorang itu bisa jadi seperti dia yg sekarang?
Kenapa, hayooo??
Saya juga bingung..
Kadang saya berpikir lingkunganlah yang membentuk seseorang. Dari yg bandel jadi baik, dari yang bejat jadi alim, atau sebaliknya. Tapi kemudian saya berpikir lagi, saya teringat pernah membaca bahwa keluarga adalah awal pembentukan kepribadian seseorang. Saya setuju sekali. Tapi lagi2 saya berpikir, kalo awalnya dari keluarga kenapa kakak beradik berbeda pula kelakuannya.
Akhirnya saya berkesimpulan, bahwa Tuhan menciptakan manusia secara unik. Tuhan sudah menentukan jalan hidup manusia. Sekarang bagaimana manusia ini tadi bereaksi menerima lingkungan pembentuknya. Bagaimana manusia ini mampu menyortir, dan melihat kembali apa yang Tuhan inginkan dari hidup manusia2 ini. Dan kalau semua manusia memahaminya, mungkin tidak ada macam-macam manusia..
Tanjungpinang, 25 Mei 2011, jam 2.25 uhuhu..
Karena gak bisa tidur dan rindu menulis malem2 hehe..
Comments
Post a Comment